Bisakah Kita Belajar Sabar dari Kisah Perang Badar

0
12
Belajar Sabar dari Kisah Perang Badar – Dakwah.ID

Bisakah Kita Belajar Sabar dari Kisah Perang Badar. Dilansir dari dakwah.id Ramadhan tahun 2 H. Waktu yang dicatat oleh sejarah sebagai titik balik perubahan besar bagi Islam dan kaum muslimin. Sebuah peristiwa yang dicatat oleh al-Quran sebagai hari pembeda (al-Furqan) di mana dua pasukan saling berhadapan; satu pasukan membawa bendera kebenaran, sedangkan lainnya membawa bendera kebatilan.

Pada tahun yang sama, Allah juga mewajibkan puasa Ramadhan kepada kaum muslimin. Syariat yang mengharuskan mereka untuk menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga mentari terbenam. Padahal Ramadhan adalah bulan yang terjadi di tengah musim panas yang sedang mengganas.

Karena Ramadhan berasal dari kata الرمض yang berarti panas yang sangat. Di mana teriknya matahari sedang berada pada puncaknya, sehingga membuat bebatuan dan padang pasir begitu terasa membakar. (As-Siyam wa Ramadhan Fi as-Sunnah wa al-Quran, Abdurrahman Hasan al-Maidani, 12)

Seperti kata pepatah “Sabar itu pada benturan pertama”, maka Ramadhan pertama tahun itu sungguh berat bagi kaum muslimin. Karena itu adalah tahun pertama melaksanakan puasa sebulan penuh setelah perintah berpuasa Allah turunkan kepada Nabi satu bulan sebelumnya di bulan Sya’ban.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi sempat mendapati dan melaksanakan puasa Ramadhan selama 9 tahun atau 9 kali selama hidupnya. Dan puasa pertama Nabi dimulai sejak Ramadhan tahun 2 H, karena perintah puasa telah turun pada bulan Sya’ban. (Majmu’ Syarhu al-Muhadzab, Yahya bin Syaraf an-Nawawi, 6/251)

Pada tahun yang berat tersebut, di saat cuaca tengah membakar padang pasir, Rasulullah bersama para sahabat justru terlibat perang yang tidak mudah. Sebuah peperangan yang berkecamuk di luar perencanaan.

Perang yang jika diukur dengan matematika manusia hanya sebagai ‘misi bunuh diri’ karena timpangnya jumlah pasukan dan perbekalan kaum muslimin dibandingkan dengan musuh.

Namun dengan peristiwa ini juga, Allah ingin mengajarkan kita satu pelajaran besar; bahwa dengan iman dan sabar, Allah menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bahwa dengan iman dan sabar, janji kemenangan itu pasti diberikan.

Penyebab Perang Badar dan Kronologi Peristiwa Sebelumnya

Bagaimana kisah perang Badar bermula?

12 Ramadhan adalah tanggal yang disebutkan oleh Syaikh ‘Ali ash-Shalabi dalam kitab Sirah Nabawiyahnya. Pada tanggal tersebut Rasulullah beserta para Sahabat keluar dari kota Madinah merujuk pada satu informasi akan lewatnya kafilah dagang Quraisy dari arah Syam.

Niat awal pasukan ini adalah melakukan misi penyergapan terhadap kafilah dagang Quraisy, sebagai bagian dari serangan terhadap ekonomi musuh. Dan hal tersebut sah dilakukan karena hubungan antara Madinah dan Mekkah ketika itu adalah hubungan perang. (Sirah Nabawiyah, Ali ash-Shalabi, 549-550)

Informasi akan adanya satuan pasukan muslim yang menghadang kafilah Quraisy sampai kepada Abu Sufyan, pemimpin kafilah ini. Ia mengutus seseorang yang bernama Dhamdam bin Amru al-Ghifari untuk menyampaikan hal tersebut kepada para pemimpin Quraisy di Mekkah, agar segera mengambil langkah penyelamatan.

Kepanikan dan kemarahan menyelimuti Makkah dengan sampainya kabar bahwa kafilah dagang mereka dihadang oleh Muhammad dan para sahabatnya. Maka dalam waktu singkat, telah disiapkan pasukan berkekuatan satu batalion, nyaris 1000 orang bersenjata siap berangkat.

Akan tetapi tidak lama setelah itu, sampai juga informasi kepada mereka bahwa Abu Sufyan telah berhasil meloloskan kafilah dagang dari sergapan pasukan Madinah. Hanya soal waktu mereka tiba di Makkah dengan selamat.

Seharusnya pasukan berkekuatan satu batalion itu tidak perlu menghunus pedang dan pergi keluar dari Makkah dalam keadaan cuaca yang tidak bersahabat. Tapi kemarahan, rasa bangga, dan kesombongan kadung menggelapkan hati para pemimpin Quraisy.

Allah menggambarkan keadaan mereka dalam firman-Nya:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

“Orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah.” (QS. Al-Anfal: 47)

Imam al-Qurthubi menjelaskan maksud dari kata bathara adalah rasa angkuh dan sombong yang juga bermakna berani. Ayat ini adalah penggambaran akan Abu Jahl dan musyrikin Quraisy yang keluar dengan keberanian menghabiskan nikmat-nikmat Allah di atas kemaksiatan. (Al-Jami’ Li Ahkami al-Quran, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, 10/42)

Berangkatlah pasukan Makkah dengan iring-iringan besar, perbekalan yang banyak, minuman keras, dan tidak lupa biduan yang akan bernyanyi untuk mereka. Bahkan sebelum berperang, mereka telah merencanakan pesta kemenangan. Meski kita tahu, yang mereka temui justru adalah kehancuran.

Perang Badar: Janji Kemenangan itu Diberikan

Badar, 17 Ramadhan tahun 2 H. Hari penting itu terjadi. Kedua pasukan telah berhadap-hadapan dengan kapasitas yang jauh berbeda. Dalam catatan Mayjend. Mahmud Syet al-Khattab, kekuatan kaum muslimin ketika itu hanya 305 prajurit dari Muhajirin dan Anshar.

Kaum muslimin hanya dilengkapi dengan dua kuda dan 70 ekor Unta yang dinaiki bergantian 2 hingga 4 orang secara bergilir.

Sedangkan pasukan musyrik Quraisy berkekuatan 950-1000 prajurit dengan kekuatan 200 pasukan berkuda dan unta dalam jumlah besar sebagai pengangkut bahan logistik. (Rasulullah Sang Panglima, Mahmud Syet al-Khattab, 151-152)

Tiga banding satu!

Secara jumlah persiapan dan kekuatan musyrik Quraisy dalam perang Badar di atas rata-rata. Secara hitungan matematika perang, kekuatan musyrik Quraisy ini sangat cukup untuk melumat pasukan Madinah yang hanya sepertiga jumlah mereka.

Perang ini sangat menentukan posisi kaum muslimin sebagai kekuatan baru di jazirah Arab sekaligus keberlangsungan Islam sebagai agama yang baru tumbuh.

Jika kekalahan menjadi ujung dari perang ini, maka Badar menjadi saksi dari kisah tragis kekalahan pasukan keimanan melawan pasukan kebatilan.

Tidak heran Rasulullah berdoa begitu khusyuk dan serius saat pertempuran berlangsung. Ia memanjatkan doa yang tidak biasa, beliau menagih janji kepada Allah agar kemenangan itu diberikan.

Doa Rasulullah ketika perang Badar ini tercatat dalam sebuah riwayat dalam kitab Shahih Muslim (No.3309).

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ

Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini.” (Ar-Rahiq al-Makhtum, Syafiyurrahman al-Mubarakfuri, 400-401)

Syahdan, hari yang menentukan itu tiba!

Kedua pasukan sudah saling bertemu siap untuk beradu. Deru nafas dan pekik suara membahana. Pedang-pedang berdenting, tanah bersimbah darah, satu demi satu jasad tergeletak tak bernyawa.

Ahad, ahad, ahad!” hanya itu yang disuarakan pasukan iman. Usaha mereka telah maksimal. Soal hasil, hanya kepada Allah mereka bertawakal.

Maka Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Pertolongan diturunkan dan kemenangan  diberikan, pasukan musyrik Quraisy lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Kesombongan dan keangkuhan mereka pada hari itu terbungkam.

70 orang musyrikin Quraisy tewas mengenaskan, sedangkan 70 lainnya tertawan. Sederet nama pemimpin Makkah masuk dalam daftar yang tewas; Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Ubaidah bin Sa’id bin ‘Ash, al-Aswad al-Makhzumi, dan beberapa nama lainnya.

Dalam perang Badar umat Islam yang gugur sebanyak 14 orang. Di antaranya Umair bin Abi Waqqash, Sa’ad bin Khaitsamah, Haristah bin Suraqah, Auf bin Harist dan beberapa nama lainnya. (Sirah Nabawiyah, Ali ash-Shalabi, 580-585)

Perang Badar pun usai. Satu episode kesabaran baru dimulai. Karena kita tahu perang Badar baru awal dari perjuangan panjang Sang Nabi menegakkan agama ini. Masih ada episode panjang lainnya yang lebih menuntut iman dan sabar untuk berperan.

Hikmah Perang Badar: Belajar Sabar

Perang Badar mengajarkan bagaimana seharusnya orang-orang beriman bersabar. Jika dicermati episode demi episode dari peristiwa agung ini, maka hampir seluruh kisahnya adalah tentang keimanan dan kesabaran.

Ramadhan, bulan di mana perang ini terjadi, saat lapar dan dahaga menyergap setiap muslim karena kewajiban berpuasa. Namun hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk mematuhi perintah sang Nabi untuk bersiap, meninggalkan kenyamanan rumah dan kehangatan bersama keluarga.

Pergi menuju padang pasir yang sedang panas mengganas. Berhadapan dengan seribu orang dengan pedang terhunus dan dada yang penuh kebencian ingin membunuh mereka. Kalau bukan karena sabar, maka hal itu mustahil dilakukan.

Kalau bukan sabar, maka logika manusia mana pun akan menolak untuk berperang dengan musuh yang komposisinya tiga kali lipat lebih banyak, ditambah perbekalan yang lebih sempurna dan kekuatan yang lebih mapan.

Tapi perang tidak selalu soal angka. Perang Badar itu berbeda. Perang Badar adalah soal Iman dan sabar. Kalau bukan karena iman dan sabar maka tidak akan terdengar jawaban-jawaban hebat saat Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat.

Jika bukan karena iman dan sabar, maka Miqdad bin al-Aswad tidak akan berkata,

Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang telah Allah perlihatkan kepadamu. Kami akan bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa. ‘Pergilah engkau dan Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami di sini duduk menunggu.”

Demi yang mengutusmu dengan kebenaran. Andai engkau membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau.”

Jika bukan karena iman dan sabar, Sa’ad bin Muadz tidak akan pernah berkata, “Majulah terus, wahai Rasulullah. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran. Andai antara engkau dan kami terhalang lautan, dan engkau terjun ke dalamnya, maka kami pun akan terjun bersamamu. Tidak ada seorang pun di antara kami yang akan mundur esok hari.” (Rahiq al-Makhtum, Syafiyurrahman al-Mubarakfuri, 387-388)

Pelaut tangguh tidak pernah dihasilkan dari ombak yang tenang” begitu kata pepatah.

Pribadi-pribadi agung dari para sahabat tidak lahir begitu saja, ada proses ujian panjang yang mereka lalui hingga iman menjadi hiasan diri dan sabar menjadi perisai hati.

Ramadhan adalah tentang sabar. Bagaimana setiap mukmin dituntut untuk taat. Menahan lapar dan dahaga, menahan mata, menahan kemaluan, menahan segala hal yang bisa merusak pahala puasa.

Jika bukan dengan iman dan sabar, rasanya sulit untuk melakukannya. Maka semoga episode perang Badar yang dikisahkan ini dapat membuat kita belajar tentang arti sabar. Bahwa ujian kita pada puasa Ramadhan kali ini belum apa-apa.

Semoga kisah perang Badar ini bisa menjadi bahan refleksi diri. Bahwa dalam hidup ini Allah selalu menguji hamba-hamba-Nya, dengan kehilangan, kekurangan, kesulitan dan ujian lainnya.

Akan tetapi Allah juga telah mengabarkan bahwa keberuntungan dan kabar gembira adalah untuk mereka yang bersabar menjalaninya.

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٍ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Wallahu a’lam.